“Kak, kenapa semangat beribadahku lebih terasa meningkat saat
berkumpul dengan kawan-kawan yang fokus di masjid daripada dengan para
aktivis dakwah kampus, ya?”
“Kalau kumpul di majelis mereka, Aku semangat menuntut ilmu, Kak. Tapi kalau di sini, Aku lebih semangat untuk berdakwah. Jadi, sebaiknya mana yang harus aku pilih?”
Beberapa
kali pertanyaan itu dan pertanyaan lain yang serupa muncul dari
adik-adik yang aktif di dakwah kampus. Pertanyaan itu acap kali
ditujukan kepadaku, selaku senior di salah satu kampus kedinasan di Jakarta.
Meskipun senior dalam level perkuliahan, namun Aku tak cukup senior
dalam dunia dakwah di kampusku. Namun, sepertinya ada perasaan ganjil
menyelimuti hatiku mendengar curahan hati adik-adikku tersebut. Di sisi
lain, Aku sangat bangga dengan semangat mereka yang menggebu-gebu untuk
mencari hidayah Allah. Dan Aku pun sangat yakin, mereka Insya Allah
akan mendapatkannya selama tidak pernah putus asa, sebagaimana jaminan
Allah, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, maka akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Sebenarnya
pertanyaan seperti itu pun pernah muncul di benakku saat awal-awal
semangat melibatkan diri di dunia dakwah. Dan pertanyaan seperti ini
harus segera dijawab karena jika dibiarkan akan berakibat fatal, yakni
mundurnya kader dari jalan dakwah. Hal ini pun dapat merebak kepada
kader-kader lainnya, layaknya jamur di musim penghujan.
Saudara-saudaraku yang Aku cintai karena Allah, mengapa harus ada
sekat antara ilmu, amal dan dakwah? Apakah seorang aktivis dakwah hanya
cukup dengan mengajak saudaranya namun membiarkan dirinya kekeringan
ruhiyah? Lantas, kepada siapa engkau akan mengajak? Atau hanya
mencukupkan dirinya memperkaya fikriyah dan ibadah mahdhah dengan
melalaikan tugas berdakwah? Jika demikian, apa gunanya Nabi dan Rasul
diutus Allah?
Sebagai orang yang terlanjur dicap sebagai aktivis
dakwah, tentu kita harus memfokuskan upaya dan kemampuan kita untuk
berdakwah. Namun, tak lepas dari bekal wajib yang perlu kita
persiapkan. Ibarat pengelana, kita telah menetapkan tujuan pengembaraan
kita, tidak ada tujuan yang lain kecuali meraih ridha Allah. Dan juga
kita telah memilih jalan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan,
yaitu jalan juang para Nabi dan Rasul. Di jalan yang panjang, berliku
dan penuh aral rintangan ini tentu kita tidak boleh membiarkan diri
kita terjatuh di tengah jalan karena kekurangan bekal. Bahkan kita
menyiapkan bekal yang lebih baik dari pengembara pada umumnya. Bekal
tersebut adalah kekuatan pemahaman dan ruhiyah.
Bekal pemahaman
dan ruhiyah dapat diuraikan menjadi tiga hal, yaitu pemahaman terhadap
prinsip-prinsip Islam, kekuatan ma’nawiyah, dan pemahaman terhadap
dakwah dan jamaah dakwah.
Pertama, pemahaman terhadap prinsip-prinsip Islam meliputi bagaimana seorang kader dakwah mampu memahami aqidah Islam, tata cara
ibadah, dan muamalah secara bijak dan kaffah. Seorang kader dakwah
seharusnya memahami alasan memilih Allah sebagai Rabb, Islam sebagai
agama, Rasulullah sebagai suri teladan, dan Al-Quran sebagai pedoman
hidup. Termasuk di dalamnya juga pemahaman terhadap rukun Islam dan
rukun iman. Dan seorang kader dakwah pun seharusnya mengerti bagaimana
beribadah dengan benar, bagaimana berinteraksi dengan sesama muslim
maupun kafir, dan bagaimana penerapan hukum-hukum dalam Islam.
Seorang
kader dakwah yang belum memahami hal ini cenderung akan mudah menyerah
karena merasa tidak pantas apalagi jika berhadapan dengan mad’u yang
lebih paham. Atau bisa jadi malah dapat menjatuhkan dakwah jika kader
tersebut menampilkan sesuatu yang bertentangan dengan aturan Islam.
Kedua,
kekuatan ma’nawiyah atau bagaimana seorang kader dakwah dapat
merasakan kedekatan Allah dan selalu merasa diawasi oleh Allah.
Kekuatan ini dapat diperoleh melalui amalan yaumiah-nya, baik ibadah
mahdhah maupun ghairu mahdhah, yang wajib maupun yang sunnah. Di
antaranya kualitas tilawah baik bacaan maupun pemahaman ayatnya,
hafalannya, shalat berjamaahnya, shalat malamnya, puasa sunnahnya, dan
sebagainya.
Jika seorang kader dakwah tidak memilikinya maka akan
mengalami kehampaan hati dan kekeringan jiwa. Lebih lanjut dapat
terjebak ke hal-hal yang tidak bermanfaat seperti berlebihan dalam hal
yang mubah, bahkan maksiat. Atau niat yang melenceng, tidak murni
karena Allah. Karena seorang akhwat, misalnya. Apa jadinya jika kader
dakwah seperti ini?
Ketiga, pemahaman terhadap dakwah
dan jamaah dakwah adalah seberapa jauh seorang kader dakwah memahami
urgensi berdakwah, perannya dalam dakwah, kepada siapa harus berdakwah,
sarana dakwah dan bagaimana cara berdakwah. Dan hal yang tidak kalah
penting adalah bagaimana memilih jamaah dakwah untuk dapat istiqamah di
jalan dakwah, karena dengan adanya jamaah maka beban dakwah kita
menjadi lebih ringan dengan adanya amal jama’i serta lebih terarah
dengan adanya sistem yang baik. Allah pun menyukai hal ini, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya layaknya bangunan yang kokoh.” (QS. As-Shaff: 4)
Kurangnya
pemahaman seorang kader terhadap dakwah menyebabkan lemahnya azzam
untuk berdakwah serta menjadi manja dan mudah mengeluh. Terlebih lagi
jika tidak memahami dan memilih jamaah dakwah untuk memudahkan
geraknya, maka akan mudah terombang-ambing dalam menghadapi fitnah dari
musuh-musuh dakwah.
Ketiga hal di atas merupakan bekal yang wajib
dimiliki oleh setiap kader dakwah. Meskipun demikian, bekal tersebut
bukanlah hal yang instan, melainkan sebuah proses. Oleh karena itu,
seorang aktivis dakwah harus sabar untuk mengumpulkan bekal tersebut
sekaligus tetap bergerak dalam medan dakwah. Carilah bekal tersebut di
manapun engkau menemuinya karena mutiara akan tetap mutiara, meskipun
berada di tempat yang hina asalkan engkau memiliki kemampuan untuk
memurnikannya kembali. Tapi jika engkau belum memiliki kemampuan untuk
menyaringnya, maka carilah di tempat yang engkau percaya.
Jika
kemampuan pemahaman dan ma’nawiyah (ruhiyah) telah melekat pada diri
seorang kader dakwah, diterpa badai dan topan pun dia tetap tegar di
jalannya dengan izin Allah. Meskipun media tidak berpihak, kader dakwah
tidak akan pernah bertolak karena tujuannya adalah penilaian Allah,
bukan penilaian manusia. Jika musuh-musuh dakwah memfitnah, dia tak
akan pernah goyah karena cita-citanya adalah Jannah. Demikianlah
seharusnya kader dakwah.
Pembaca yang dirahmati Allah, Jika
kondisi ini terjadi pula pada wasilah dakwah yang Anda alami maka
cobalah mengevaluasi kembali apakah sistem yang telah diterapkan telah
memenuhi kebutuhan fikriyah dan ruhiyah kadernya? Bisa jadi, amanah
yang diemban para kader terasa lebih besar dibandingkan sarana pemompa
ruhiyah mereka. Atau sarana yang telah ada ternyata belum optimal
dimanfaatkan para aktivis dakwah. Jika mentoring saja belum cukup,
masih banyak sarana dakwah lain yang dapat kita terapkan, seperti
tatsqif, ma’had, dan yang lainnya. Sesungguhnya yang kita alami
bukanlah kelemahan kader dakwah, tapi tidak meratanya kemampuan kader
dakwah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar