Senin, 10 November 2014

Renungan part 1



Bismillah,,,
            Pagi ini aku tidak mengawali dengan membaca ayat ayat suci atau pun berzikir pada-Nya. Iman ku memank selalu naik turun, tidak pernah bisa konsisten untuk tetap berada ditempat yang seharusnya. Hati ini selalu terombang ambing , kemana angin bertiup maka disitu pulalah dia akan ikut. Ada yang menuntun kearah kebaikan, hati pun juga ikut menoleh kearah yang sama. Begitu sebaliknya, ada yang membawa kearah keburukan, dengan gampang hati ini juga condong kearah keburukan.
            Aku orangnya memang gampang berubah, tidak memiliki pendirian yang kuat. Setan pun menggoda diriku selalu menang. Hawa nafsu menjadi prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari. Entahlah, bingung untuk berbuat seperti apa. Agar bisa menahan semua hawa nafsu yang mengarahkan diri ini pada kemungkuran.
            Tidak perlu jauh –jauh memberikan contoh keburukan yang menjadi sarapan tiap hari. Misalnya :
1)      Tidak melaksanakan sholat isya dan shubuh. Kalau pun iya, kadang-kadang sholat shubuh tepat waktu tapi isya nya malah bolong sama sekali. Atau sebaliknya,yang lebih parah dalam satu hari, dengan tidak ada perasaan berdosa aku berani tidak sholat 5 waktu. Mulai dari isya, shubuh, zhuhur, ashar, dan magrib. Astagfirullah,, begitu parahnya diriku, hati ku sepertinya betul-betul sudah sakit.

2)      Dulu aku pernah berjanji untuk tilawah setiap selesai sholat wajib. Tapi kenyataan nya , janji-janji itu hanya omong kosong belaka. Tidak bisa aku menepatinya. Yang ada malah jarang sekali bertilawah. Itupun hanya sesekali, bisa dihitung dengan jari kapan bertilawahnya.

3)      Dalam berzikirpun, sama halnya dengan sholat dan mengaji. Masih belum bisa untuk membiasakan untuk tetap konsisten ber zikir. Padahal aku tau, keutamaan berzikir sangatlah penting dikerjakan. “ zikir ibarat ikan dengan air. Ikan diibaratkan dengan manusia, air diibaratkan dengan zikir. Ikan tanpa air maka ia akan mati. Jadi, manusia tanpa berzikir, ia akan mati. Hidup tapi mati. Hidup dalam penuh kekosongan, kegelisahan, kehampaan, dan kesedihan.”

Fatal sekali akibatnya apabila qita tidak berzikir disetiap hembusan nafas yang keluar. Innalillah, apa rasanya hidup tapi hakekatnya mati. Seperti mayat yang hidup didunia. Kehidupan yang membuat hati tidak tenang dan bahagia.

4)      Allah telah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua. Ridho Allah ada pada ridho ibu dan ayah.
Dulu aku sering sekali membatah apa kata ayah dan ibu. Bahkan sampai sekarang masih juga bersikap yang sama. Bersitegang melawan amarah ayah, sambil melemparkan sapu kearahnya juga pernah. Bersungut-sungut dalam mengerjakan apa yang diperintahkannya. Rasa ikhlas hanya sedikit ketika berhadapan dengan ayah . Ayah yang memiliki sikap temperamental, gampang marah. Membuat diriku menjadi pelawan tidak bisa mengendalikan diri. Pernah suatu ketika, ayah marah besar sambil memaki maki dan memukul diriku. Alasannya Cuma karna aku telah mengambil tas penyimpanan surat-surat penting yang ada dilembari. Kemudian tas itu aku ganti dengan tas yang lainnya.

Tapi, ayah tetap saja tidak menerima apa yang aku lakukan. Habis kenak semprot diriku. Lagi –lagi aku memancing kemarahan nya untuk keluar. Sekian kalinya menjadi anak durhaka karna tidak bisa mendapatkan ridho orang tua. Yang hanya bisa membuat kesal dan dosa ayah pada diriku. Dua hal itu, hanya sekelumit dari banyaknya perbuatan buruk yang telah ku lakukan pada ayah. Sungguh sangat sia-sia apa yang telah ku lakukan selama ini terhadap ayah.

Tidak hanya ayah, pada ibu pun juga seperti itu. Kadang aku pernah tidak besikap sopan pada ibu. Cerita nya seperti ini,,
           “ Waktu itu aku masih aktif kuliah dikampus. Setiap pulang dari kampus ditengah harinya, tentu perut siapa yang tidak keroncongan disiang bolong yang panas. Apalagi baru lepas dari kepenatan pikiran yang berbau perkuliahan dengan segala macam rupa keadaan. Keruwetan kampus, ditambah dengan keadaan rumah yang sama –sam tidak mengenakkan. Kenapa tidak, ketika ingin hendak makan siang.
Dimana perut sudah pedih, pikiran yang sedang panas. Ternyata ibuku sama sekali belum menyiapkan makanan. Yang ada hanya cabe sekelumit teronggok dibawah tudung. Hemm,, apa yang terjadi dengan diriku?
           Aku merepet-repet habis karna kesal tidak menemukan makanan dibawah tudung yang bisa dimakan  waktu itu. Sudah perkuliahan mau dilanjutkan siang nya. Hanya diberi kesempatan buat sholat dan makan siang. Mana bisa nunggu ibu masak dulu sebentar, yang ada aku malah terlambat lagi kuliahnya.
           Marah-marah gak jelas pada ibu, sambil mengeluarkan kata-kata tidak sopan. Aku gak tau, apakah kata-kataku telah menyakitkan hati ibu ketika itu.  Ditambah lagi, mengucapkan kata-kata keji yang seharusnya tidak pantas ku katakan pada ibu didepan teman ku sendiri. Rina fitria , teman dekatku yang menjadi saksi ketika perbuatan buruk itu berlangsung. Entah apa lah, yang dirasa kan ibu dikala itu. Ibu hanya diam tanpa berkata –kata membantah diriku yang sangat kurang ajar. Hemmm,, memank aku ini sangat jahat sekali pada ibu.
Lagi- lagi , aku hanya bisa membuat ibu dan ayah kesal. Kemurkaan nya selalu hadir disetiap kehidupan ku. Sikap buruk menghiasi hari-hari ku pada ibu dan ayah. Sungguh terlalu,,,,, astagfirullahalazimmm,,,,,



























Tidak ada komentar:

Posting Komentar