Bismillah,,,
Pagi ini aku tidak mengawali dengan membaca ayat ayat
suci atau pun berzikir pada-Nya. Iman ku memank selalu naik turun, tidak pernah
bisa konsisten untuk tetap berada ditempat yang seharusnya. Hati ini selalu
terombang ambing , kemana angin bertiup maka disitu pulalah dia akan ikut. Ada
yang menuntun kearah kebaikan, hati pun juga ikut menoleh kearah yang sama.
Begitu sebaliknya, ada yang membawa kearah keburukan, dengan gampang hati ini
juga condong kearah keburukan.
Aku orangnya memang gampang berubah, tidak memiliki
pendirian yang kuat. Setan pun menggoda diriku selalu menang. Hawa nafsu
menjadi prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari. Entahlah, bingung untuk
berbuat seperti apa. Agar bisa menahan semua hawa nafsu yang mengarahkan diri
ini pada kemungkuran.
Tidak perlu jauh –jauh memberikan contoh keburukan yang
menjadi sarapan tiap hari. Misalnya :
1) Tidak
melaksanakan sholat isya dan shubuh. Kalau pun iya, kadang-kadang sholat shubuh
tepat waktu tapi isya nya malah bolong sama sekali. Atau sebaliknya,yang lebih
parah dalam satu hari, dengan tidak ada perasaan berdosa aku berani tidak
sholat 5 waktu. Mulai dari isya, shubuh, zhuhur, ashar, dan magrib.
Astagfirullah,, begitu parahnya diriku, hati ku sepertinya betul-betul sudah
sakit.
2) Dulu
aku pernah berjanji untuk tilawah setiap selesai sholat wajib. Tapi kenyataan
nya , janji-janji itu hanya omong kosong belaka. Tidak bisa aku menepatinya.
Yang ada malah jarang sekali bertilawah. Itupun hanya sesekali, bisa dihitung
dengan jari kapan bertilawahnya.
3) Dalam
berzikirpun, sama halnya dengan sholat dan mengaji. Masih belum bisa untuk
membiasakan untuk tetap konsisten ber zikir. Padahal aku tau, keutamaan
berzikir sangatlah penting dikerjakan. “ zikir ibarat ikan dengan air. Ikan
diibaratkan dengan manusia, air diibaratkan dengan zikir. Ikan tanpa air maka
ia akan mati. Jadi, manusia tanpa berzikir, ia akan mati. Hidup tapi mati.
Hidup dalam penuh kekosongan, kegelisahan, kehampaan, dan kesedihan.”
Fatal sekali akibatnya apabila qita
tidak berzikir disetiap hembusan nafas yang keluar. Innalillah, apa rasanya
hidup tapi hakekatnya mati. Seperti mayat yang hidup didunia. Kehidupan yang membuat
hati tidak tenang dan bahagia.
4) Allah
telah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua. Ridho Allah ada pada
ridho ibu dan ayah.
Dulu aku sering sekali membatah apa kata
ayah dan ibu. Bahkan sampai sekarang masih juga bersikap yang sama. Bersitegang
melawan amarah ayah, sambil melemparkan sapu kearahnya juga pernah.
Bersungut-sungut dalam mengerjakan apa yang diperintahkannya. Rasa ikhlas hanya
sedikit ketika berhadapan dengan ayah . Ayah yang memiliki sikap temperamental,
gampang marah. Membuat diriku menjadi pelawan tidak bisa mengendalikan diri.
Pernah suatu ketika, ayah marah besar sambil memaki maki dan memukul diriku.
Alasannya Cuma karna aku telah mengambil tas penyimpanan surat-surat penting
yang ada dilembari. Kemudian tas itu aku ganti dengan tas yang lainnya.
Tapi, ayah tetap saja tidak menerima apa
yang aku lakukan. Habis kenak semprot diriku. Lagi –lagi aku memancing
kemarahan nya untuk keluar. Sekian kalinya menjadi anak durhaka karna tidak
bisa mendapatkan ridho orang tua. Yang hanya bisa membuat kesal dan dosa ayah
pada diriku. Dua hal itu, hanya sekelumit dari banyaknya perbuatan buruk yang
telah ku lakukan pada ayah. Sungguh sangat sia-sia apa yang telah ku lakukan selama
ini terhadap ayah.
Tidak hanya ayah, pada ibu pun juga
seperti itu. Kadang aku pernah tidak besikap sopan pada ibu. Cerita nya seperti
ini,,
“
Waktu itu aku masih aktif kuliah dikampus. Setiap pulang dari kampus ditengah
harinya, tentu perut siapa yang tidak keroncongan disiang bolong yang panas.
Apalagi baru lepas dari kepenatan pikiran yang berbau perkuliahan dengan segala
macam rupa keadaan. Keruwetan kampus, ditambah dengan keadaan rumah yang sama –sam
tidak mengenakkan. Kenapa tidak, ketika ingin hendak makan siang.
Dimana perut sudah
pedih, pikiran yang sedang panas. Ternyata ibuku sama sekali belum menyiapkan
makanan. Yang ada hanya cabe sekelumit teronggok dibawah tudung. Hemm,, apa
yang terjadi dengan diriku?
Aku
merepet-repet habis karna kesal tidak menemukan makanan dibawah tudung yang
bisa dimakan waktu itu. Sudah
perkuliahan mau dilanjutkan siang nya. Hanya diberi kesempatan buat sholat dan
makan siang. Mana bisa nunggu ibu masak dulu sebentar, yang ada aku malah
terlambat lagi kuliahnya.
Marah-marah
gak jelas pada ibu, sambil mengeluarkan kata-kata tidak sopan. Aku gak tau,
apakah kata-kataku telah menyakitkan hati ibu ketika itu. Ditambah lagi, mengucapkan kata-kata keji
yang seharusnya tidak pantas ku katakan pada ibu didepan teman ku sendiri. Rina
fitria , teman dekatku yang menjadi saksi ketika perbuatan buruk itu
berlangsung. Entah apa lah, yang dirasa kan ibu dikala itu. Ibu hanya diam tanpa
berkata –kata membantah diriku yang sangat kurang ajar. Hemmm,, memank aku ini
sangat jahat sekali pada ibu.
Lagi- lagi , aku hanya
bisa membuat ibu dan ayah kesal. Kemurkaan nya selalu hadir disetiap kehidupan
ku. Sikap buruk menghiasi hari-hari ku pada ibu dan ayah. Sungguh terlalu,,,,,
astagfirullahalazimmm,,,,,