Senin, 18 Agustus 2014

Hidup qu yang Stagnan,,,



Bismillahirrahmanirrahim,,,
            Sekarang aku hanya bisa terduduk diam meratapi dosa-dosa yang telah ku lakukan selama ini. Rasa tidak berdaya , rasa kosong, rasa hampa tak bermakna selalu mengisi disetiap hari-hari ku. Yah stagnan,,, lurus seperti grafik menuju kematian yang siap menerkam diriku. Dari dulu hingga sekarang sama sekali tidak ada grafik perubahan. Lagi lagi hal yang sama terulang tanpa bosan menghampiri jiwa ku. Seolah olah bumi berhenti tidak lagi berputar. Tegg,,, hidup tak bermakna ,,ini lah yang ku tangkap……
            Kewajiban yang harus ku tanggung, tamat dari perguruan tinggi. Belum ada tanda-tanda kemenangan yang berpihak padaku. Cukup sudah 5 tahun menjamur difkip biologi. Tapi apa hendak dikata,,, skripsi ku tak kunjung kunjung mendapat jalan keluar. Bloog bloggg semakin tenggelam dilautan yang dalam. Napas semakin sesak,, menemani bayangan draf skripsi yang belum tampak dari permukaan. Asin air laut selalu setia menjadi teman dan musuh ku. Getar getir auman para ikan pembunuh ,, berlalu lalang mengintai aku yg selalu menggigil menggenggan bayangan draf skripsi antah barantah statusnya.
            Satu per satu sahabat ku telah menggapai cita-cita nya. Diah, ningsih, zakiah, iber, dan kak fida telah terbang melalang buana menerkam impian nya. Dan sekarang tinggalah aku seorang menangis bermuram durja menatap bongkahan –bongkohan skripsi mereka untuk menjadi referensi tugas akhir yang masih terbengkalai. Tapi aku tidak sendirian,, masih ada rina sahib ku yang belum tamat. Sama dengan ku,, nasib nya ,,,hanya rina Cuma belum tampil seminar mata kuliah. Hemmm,,,, kenapa jadinya seperti ini yaaa?? Entah lah,,,,
            Menjadi seorang tentor bimbel ternama dipekanbaru, GO ( Ganesha Operation) ,,diah sahabatku yang paling ku sayang sudah sukses membanggakan kedua orangtuanya .Dengan penghasilan financial yang cukup wah,, untuk tahap pemula. Lebih kurang Rp 2.500.000 pendapatannya per bulan. Hidup mandiri untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Tidak lagi  membebani kedua orang tuanya dikampung. Itu lebih dari cukup,, dibandingkan dengan diriku yang masih nebeng hidup sama ayah dan ibu. Sungguh memalukan,,untuk seumur aku yang sudah tergolong tua.
            Yah,,untuk sekarang aku hanya bisa menatap sambil tersenyum bahagia atas kesuksesan sahabat-sahabat ku,,,,   berharap aroma kesuksesan mereka bisa segera kutangkap disuatu saat nanti,,Aamiin,,,